Padang Panjang Kota yang Bersahabat untuk Semua, Kota Kecil dengan Nama Besar

Padang Panjang Kota yang Bersahabat untuk Semua, Kota Kecil dengan Nama Besar

| Dari Balaikota
549

PADANG PANJANG – Berbicara tentang Kota Padang Panjang. Mungkin akan banyak perdebatan tentang kota kecil yang terletak di perlintasan Sumatera Barat ini. Selain dikenal sebagai kota pusat pendidikan Islam, Padang Panjang juga surga bagi penikmat kuliner dan beragam karunia sang pencipta akan keindahan alamnya.

Ketika orang menyebut Sumatera Barat, tanpa sengaja melintas di pikirannya alam yang indah dan masyarakat yang ramah baik hati. Hal ini terbersit setelah melihat tingkah laku anak Minang di perantauan yang penuh sopan santun. Di kota mana pun dan ke daerah mana pun mereka mengadu nasip, tetap saja mendapat tempat di hati masyarakat setempat.

“Ini adalah kota yang berbahagia,” demikian tulis AA Navis, pengarang Robohnya Surau Kami yang fenomenal itu. Navis melanjutkan, disana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup.

Mungkin beberapa waktu lalu, para wisatawan yang berkunjung ke Sumbar, mereka hanya akan dominan membicarakan Sumatera Barat dengan menyebut dua kota saja, yaitu Padang dan Bukittinggi. Tetapi kini pesona Sumatera Barat sudah beralih ke kota kecil yang indah dan cantik elok rupa yang bernama Padang Panjang.

Kini, kota yang tanggal 1 Desember 2015 akan berulang tahun untuk ke 225 itu, telah muncul sebagai magnit pengundang wisatawan ke Sumbar. Baik dari dalam maupun luar negeri. Selain alamnya yang indah, kulinernya bercita rasa tinggi.

Akhyari Hananto seorang penikmat wisata di negara ini, menuliskan ketakjubannya terhadap Padang Panjang yang kini dipimpin Walikota Hendri Arnis.

Seperti dituliskannya di media sosial internet Beta GoodNews From Indonesia, dia memulai dengan sebuah pertanyaan. Tempat apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama Sumatera Barat atau Ranah Minang?. “Sebagian besar mungkin akan menjawab Padang atau Bukittinggi sebagai dua nama yang selalu terngiang pertama kali,” tulisnya.

Kemudian Hananto melanjutkan tulisannya. “Belum lama lalu, saya pun merasakan hal serupa. Namun kini,  saya punya nama baru, yang telah sangat membekas di benak saya. Namanya adalah Padang Panjang,” katanya.

Pengakuan Hananto itu tepat sekali dan tidaklah berlebihan adanya. Sebab, kata Walikota Padang Panjang melalui Kabag Humas Setdako Ampera Salim, beberapa waktu lampau, orang di luar Sumbar mungkin tak sering mendengar Padang Panjang. Tapi kini kota berjuluk serambi mekah itu, sudah lekat diingatan setiap orang yang pernah atau akan berwisata ke Sumbar.

Disebutkan, kota ini dikelilingi pegunungan dengan pohon-pohon menjulang dari hutan primer yang hijau. Kota dengan wilayah terkecil di Sumatera Barat ini berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, berada pada kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan suhu udara maksimum 26.1 °C dan minimum 21.8 °C, dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm/tahun.

“Inilah salah satu kota yang alamnya bernuansa pedesaan. Udaranya bersih. Masyarakatnya ramah. Setiap pejabat daerah lain yang melakukan kunjungan kerja ke Padang Panjang, pasti memuji keindahan alam dan keramahan warga kota ini,” kata walikota.

Sementara, Akhyari Hananto menyebutkan, “Jika pulau Jawa punya Bogor yang berjuluk Kota Hujan, maka Padang Panjang adalah Kota Hujan di Sumatera. Saya mengunjungi kota ini di hari-hari awal musim hujan, dan benar saja hujan di sini benar-benar deras,” kata Hananto.

Di bagian utara dan agak ke barat Padang Panjang berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat yang menjulang. Kota ini punya banyak julukan. Selain kota hujan, masyarakat Padang Panjang sangat bahagia dengan sebutan Kota Serambi Mekkah.

Pada masa lalu, Belanda menyebut Padang Panjang dengan Egypte van Andalas (Mesir di Tanah Sumatera). Disebut Kota Pendidikan karena banyaknya institusi pendidikan dan sejarah panjang bagaimana kota ini memerankan peran pendidikan sejak masa lalu.

Sebelum zaman penjajahan, Padang Panjang merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh, pada masa Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu loncatan untuk menundukan kaum putih yang masih menguasai kawasan Luhak Agam.

Selanjutnya Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di kabupaten Solok sekarang.

Sejak zaman kolonilal pula, Padang Panjang memainkan peran penting sebagai tempat persinggahan dan menjadi simpul 3 kota utama di pulau emas tersebut, yakni Medan, Padang, dan Pekanbaru. Tak heran, banyak tokoh-tokoh Sumatera Barat di masa itu mempunyai irisan penting dengan Padang Panjang yang juga menjadi tujuan pendidikan di masa lalu. Mulai dari Sutan Sjahrir, Hamka, AA Navis, Adam BB, Huriah Adam dan masih banyak lagi.

“Saya tak ingat satu persatu. Di sinilah berdiri sekolah agama modern pertama di Indonesia, yakni Diniyah School dan Diniyah Putri, juga yayasan pendidikan Thawalib tempat Hamka pernah menuntut ilmu,” kata Hananto menulis.

Melukiskan rasa kagum kepada Padang Panjang Akhyari Hananto menyebut, “Di Padang Panjang-lah setting cerita fenomenal Tenggelamnya Kapal van Der Wick. Dan Salah satu cerita lain yang sangat saya sukai sampai saat ini: Robohnya Surau Kami, juga tak jauh dari Padang Panjang.”

Dia juga mengatakan dengan jujur, di Padang Panjang saya diterima sebagai keluarga, dan saya begitu merasa terhormat bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang begitu mencintai kotanya. “Mereka  mencurahkan waktu tenaga dan pikirannya untuk kemajuan kota kecil yang indah ini,” tulisnya.

Tentu pula, tidak hanya Akhari Hananto, siapa pun jika berkunjung ke Padang Panjang, akan dijadikan saudara oleh warganya. Datanglah kapan saja, mereka akan menyambut dengan suka cita (Humas)

Facebook Comments